PESAN MAS JONI KEPADA PENULIS MUDA

JONI ARIADINATA salah seorang pembimbing MASTERA 2008: Cerpen dari Indonesia. Saya menggelarkan beliau bapak syurga kerana lewat perkenalan kami, beliau mencerahkan namanya sebagai Syurga (Joni = Syurga) Aria (di atas) Dinata (agama). Beliau lahir di Dusun Majapahit Majalengka, 23 Juni 1966. Mulai menulis cerita pendek pada pertengahan tahun 1993. Karya-karyanya disiarkan di beberapa media massa; di antaranya majalah Horison, Matra, Basis, Jurnal Kebudayaan Kalam, Bahana (Brunei Darussalam), serta harian Kompas, Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, Pikiran Rakyat, Jawa Pos, Bernas, dan lain sebagainya.

Pulang dari Bogor kami panjat Gramedia mencari karya Pak Joni. Sebuah buku pun tak jumpa, sedang karya dalam bentuk antologi beliau sangat banyak seperti: Lampor (Kompas, 1994), Guru Tarno (Bigraf, 1995), Negeri Bayang Bayang (DKS, 1996), Candramawa (Pustaka Nusatama, 1996), Pistol Perdamaian (Kompas, 1996), Gerbong (Pustaka Pelajar, 1998), Aceh Mendesah dalam Nafasku (KaSUHA, Banda Aceh, 1999), dan Embun Tajjali (AksaraIndonesia, 2000); sedangkan esainya dalam antologi Begini Begini Begitu (Pustaka Pelajar, 1997).

Kumpulan Cerita Pendek tunggalnya, Kali Mati (1999), Kastil Angin Menderu (2000), Air Kaldera (2000), dan Malaikat Tak Datang Malam Hari (2004). Kini menetap di Jogjakarta, menulis dan melukis.

Banyak yang saya belajar dari Pak Joni, antaranya yang saya tak boleh lupa kerana beliau agak keras menolak sastera Islam dalam cerpen saya “Tanah Sunyi Wangi Kemboja” terlalu berkhutbah! He he tapi taklah sampai lawan tok guru.

Pelajaran Kreatif dari Joni Ariadinata

BAGI kalangan sastrawan atau penulis, tetap mempertahankan nyala api kreatif, bukanlah persoalan mudah. Banyak sastrawan yang pada suatu masa menjadi sangat produktif, tiba-tiba mengalami stagnasi dan karya-karyanya tak lagi bisa dinikmati masyarakat. Banyak hal yang mempengaruhinya. Ada yang sibuk dengan pekerjaannya di luar dunia kepenulisan, ada yang karena sudah makmur sehingga kehilangan ide-ide kreatif, atau masalah lainnya yang lebih beragam.

Menurut Joni Ariadinata, ada beberapa cara atau tips untuk tetap menyalakan api kreativitas tersebut. Dia mencontohkan dirinya sendiri. Di  tahun 1990-an ketika dia baru masuk di dunia menulis (sastra) yang dianggapnya sudah sangat terlambat, dia harus bersaing keras dengan Agus Noor, salah seorang cerpenis asal Jogjakarta yang juga sangat produktif ketika itu. Semua orang tahu, Joni dan Agus adalah dua sahabat kental, namun persaingan mereka di dunia menulis juga diketahui publik sangat keras. “Pernah suatu saat Agus Noor datang ke rumah saya membawa sebuah majalah terkenal, yang di dalamnya memuat cerpennya. Agus tidak mengatakan kalau cerpennya dimuat, tapi hanya bilang ke saya, ‘Jon, “Matra… Matra…’ Hati saya jengkel betul ketika itu. Yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana supaya Agus juga merasakan sakit hati saya itu. Untuk itu saya harus berjuang keras agar menulis yang lebih baik dari Agus,” kata Joni.

Lelaki yang terkenal dengan cerpennya, “Lampor” (menjadi cerpen terbaik Kompas tahun 1994) ini juga mengisahkan, setiap dia membaca koran Ahad dan di sana ada karya Agus Noor, dia langsung merobek koran itu dan meremas-remas karya Agus. “Tetapi itu hanya persaingan kreatif. Di kehidupan sebenarnya, kami tetap berteman. Saya tak punya rokok, minta Agus. Dia tak punya kopi, datang ke rumah saya dan kami ngopi dan saling berbagi cerita dan ide. Hal-hal seperti ini perlu untuk menyalakan api kreatif. Yang tidak bagus kalau persaingan itu masuk ke hati dan membuat kedua orang teman saling bertolak belakang pandangan dan malah berseberangan secara pribadi,” kata redaktur Majalah Sastra Horison. Menurut Joni, persaingan antara-penulis di daerahnya, Jogjakarta, sangat ketat. Persaingan kreatif ini tak jarang melibatkan sesama teman baik. Dia mencontohkan, Marhalim Zaini, sastrawan Riau, pernah bersaing kreatif sangat tajam dengan Raudal Tanjung Banua, rekannya sesama mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta dan sama-sama teman satu komunitas penulis. Setiap cerpen atau puisi Raudal dimuat di koran, Marhalim akan bekerja keras untuk melakukan hal yang sama, juga sebaliknya. Hal yang sama juga terjadi antara Putut EA dengan Satmoko Budi Santoso dan beberapa sastrawan lainnya. “Yang terjadi, persaingan ketat antar-teman itu membuahkan hasil. Semuanya jadi. Sekarang, redaktur budaya media  mana yang berani menolak karya Raudal, Marhalim, Satmoko atau Putut?” kata Joni lagi.

Dalam bagian lain, Joni juga menjelaskan bagaimana “permusuhannya” dengan kritikus sastra UGM, Faruk HT. Pernah suatu kali, kata Joni, ketika peluncuran kumpulan cerpennya, Faruk diundang oleh Penerbit Bentang Pustaka. Dan ketika maju ke depan, Faruk mengatakan bahwa cerpen-cerpen Joni adalah karya yang buruk dan tidak menawarkan apa-apa. Faruk mengambil buku dan kemudian membuangnya. Joni sangat sedih sekali ketika itu. “Tetapi, sekali lagi, secara pribadi dengan Faruk, saya tetap akrab sebagai teman,” jelasnya lagi.

Menanggapi banyak hal yang ber­kembang dalam diskusi, Joni menjelaskan, hal yang dilakukan  oleh para penulis pemula untuk tetap eksis adalah selalu berkarya dan berkarya, tak peduli hasilnya seperti apa. “Tahun 1990-an, setiap hari Kompas menerima 80 lebih naskah setiap harinya atau lebih 500 cerpen setiap pekannya, dan yang dimuat hanya satu. Ketika “Lampor” menjadi cerpen terbaik Kompas, saya senang karena saya akan dengan mudah bisa menembus, minimal setiap bulannya. Tapi ternyata salah. Hampir setahun setelah itu cerpen saya  ditolak. Tetapi saya terus menulis dan menulis,” kata sastrawan yang mengaku terpengaruh karya-karya Yanusa Nugroho ini.

Artinya, para penulis muda harus terus bekerja keras mengasah karyanya. Sebab, jika sudah terbiasa menulis, akan muncul dan suatu saat pasti akan lahir karya-karya terbaik. “Yang menjadi persoalan, kalau baru dua sampai sepuluh karyanya ditolak media dan kemudian patah hati, ya sudah, tak akan pernah maju. Tetapi, saya kira, kalau kita tak berbakat menjadi penulis, untuk apa kita memaksakan diri? Toh masih banyak pekerjaan yang lainnya,” katanya.

Advertisements

3 thoughts on “PESAN MAS JONI KEPADA PENULIS MUDA

  1. Salam,

    Sekadar menjenguk,apa khabar ‘anak sulung’ saya, Dari QM Ke DM?Maklumlah,anak sulung.Sifat pun tak seberapa mcm ‘anak’ orang lain.Hehe!Yang saya harap, tajuknya tak salah cetak…

    Salam kembali dan selamat berkarya!

  2. Wa’alaikum Salam Rai,

    Ya lah, dah nak tutup tahun dah, ‘anak’ kedua saya pun masih tak lahir-lahir lagi. Bentan(?) barang kali. Nanti saya tanya kan mak bidannya.

    Rai, jangan lama tunggu ‘anak’ sulung tu lahir. Buat ‘anak’ baru! He heh (tak ada makna lain ya!).

    al-Kurauwi

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s